Suara yang Bersemayam dalam Kepala

Ilustrasi suasana kelam penyesalan di hutan tak berpenghuni

Aku mematikan siaran televisi yang telah mengabarkan berita paling buruk dalam hidupku. Suara Nayla sang penyiar yang biasanya enak didengar, kali ini terdengar seperti suara sang penyair kematian: serak, berat, dan lirih. Aku melongok ke luar melalui jendela yang kusennya sudah mulai disantap rayap sambil mengepulkan asap rokok. Bau asap yang menyengat hidung memenuhi kamar apek itu. Di atas meja, puntung rokok saling berdesakan dalam asbak berbentuk tempurung kura-kura. Saat aku memadamkan puntungnya ke asbak itu, dua puntung lainnya meruah sehingga mengotori alas meja yang sudah dekil menghitam. 

Botol minuman sudah ludes. Tetesan terakhirnya harus kujilat. Di lemari es tak tersisa satu botol pun. Aku mondar-mandir dalam kamar berukuran 4x6 meter itu, kamar kos yang kusewa selama beberapa bulan untuk urusan bisnis. Sesekali aku melirik ponsel di atas meja, berharap ada nada dering yang berbunyi. Tapi sejak setengah jam yang lalu —setelah panggilan terakhir dari Bos Besar yang marah-marah— aku tidak mendapatkan panggilan dari siapa pun lagi. Sementara itu di luar, hujan baru saja berhenti setelah berhari-hari turun tanpa henti. Sebenarnya tidak benar-benar berhenti. Rinainya masih terasa menggaruk seng. Dari jauh, terdengar suara jangkrik dan kodok saling bersahutan seakan-akan seperti sedang berdebat. Perdebatan antara dua makhluk menjijikkan itu tidak akan pernah berakhir selama langit masih basah. Mungkin, sampai kiamat mereka akan terus berdebat sepanjang malam untuk membuktikan kepada alam semesta siapa penguasa kegelapan paling berisik.

Jam digital di tanganku berbunyi sekali. Pukul sepuluh malam. Aku mencoba untuk menghubungi Muzakkir, kaki tangan yang kupercayakan untuk mengawasi para pekerja. Tidak ada nada masuk, hanya ada suara perempuan yang memberitahukan bahwa nomor yang kutuju tidak aktif. Berkali-kali bahkan puluhan kali aku berusaha menelepon Muzakkir. Aku perlu tahu keadaan di tempat penampungan kayu milik Bos Besar. Setelah hujan turun berhari-hari, ditambah kondisi tubuhku yang sedang demam, aku tidak bisa mengawasi langsung ke sana. 

Aku selalu berkoordinasi dengan Muzakkir. Kabar terakhir yang kuperoleh, banjir hebat menyerang tempat penampungan kayu. Para pekerja melarikan diri, oh tidak, mereka hanya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Banjir datang bergulung-gulung, tingginya lebih dari dua meter, menghancurkan beberapa pondok kayu. Sedangkan Muzakkir, aku yakin saat itu ia masih berada di tempat penampungan kayu. Ia harus menjaga kayu-kayu yang siap diangkut ke Medan secara diam-diam. 

Semestinya jadwal pengiriman harus dilakukan dua hari yang lalu. Tapi hujan lebat menggagalkan rencana tersebut. Muzakkir mengabarkan bahwa truk belum bisa berangkat akibat longsor. Satu-satunya jalan keluar masuk ke tempat penampungan kayu itu terhalang longsor. 

“Kenapa kayu-kayu itu belum masuk?” tanya Bos Besar dengan nada tinggi.

“Truk kita terjebak, Bos,” jawabku sedikit gugup.

“Cepat kau selesaikan. Untuk apa juga kugaji kau.”

“Iya, Bos! Segera dilaksanakan.”

Sejak itulah demam menyerang. Entah karena takut dengan ancaman Bos Besar atau karena perubahan cuaca yang tak menentu saat itu. Atau mungkin dua-duanya. Tubuhku kembali menggigil. Seluruh tulang berderak. Aku mengambil selimut dan berbaring. Gigiku beradu, mataku berkunang-kunang, kepalaku berdenyut. Penderitaan ini semakin lengkap tanpa kehadiran Marlina di sampingku. 

“Sudah kubilang, Sayang,” kata Marlina kala itu, “berhenti saja dari pekerjaanmu sekarang.” Ia menatap langit-langit kamar yang agak redup. 

“Hanya pekerjaan ini yang mampu memberiku gaji tinggi, Mar,” sanggahku sambil membelai rambutnya. “Setelah uang yang kukumpulkan cukup, aku akan segera melamarmu.” Kami berbaring di ranjang yang sama. Menatap langit-langit kamar seperti menonton masa depan kami yang samar.

“Tapi terlalu besar risikonya.” Marlina mengubah posisi tidurnya. Ia menatap wajahku dari sisi kiri dengan lama. Aku pun mengubah posisiku. Kami saling berhadapan. Saling menatap. Lalu saling bercumbu.

Tiba-tiba aku merindukan Marlina. Sudah lama aku tidak bisa menghubungi nomor ponselnya. Mungkin dia masih marah kepadaku, lalu memblokir nomor kontakku. Setiap aku meneleponnya, selalu ada nada sela. 

“Jika kau masih bekerja di sana, tidak ada pilihan lain. Hubungan kita harus berakhir sampai di sini.” Kali ini Marlina tidak main-main. Aku tahu dia sudah jenuh. Dua minggu sekali aku harus bolak-balik. Bukan masalah jarak yang kami perdebatkan, tapi jenis pekerjaanku yang tidak bisa diterimanya. Mungkin dia takut, suatu saat nanti aku akan mendapatkan marabahaya atau berakhir di tempat yang paling hina.

 “Marlina,” desahku pelan. Air di mataku menetes mengenang kebersamaan kami. Lalu aku terlelap karena begitu lelah.

Aku terbangun pada pukul satu malam. Terasa kelam. Mesin pendingin di kamar terdiam. Baru aku sadar kalau lampu sudah padam. Hujan kembali turun. Kali ini sedikit deras. Kembali menggaruk-garuk seng yang sudah mulai berkarat. Aku meraih ponsel di atas meja. Menelepon lagi Muzakkir. Gagal. Aku mengumpat pelan. Jaringan hilang, listrik padam, tubuh demam, kepala hendak meledak, dan Muzakkir seakan lenyap ditelan malam. Lengkap sudah segala penderitaan. 

Tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat. Ponsel bergetar sekali. Ada pesan yang masuk. Tapi entah dari siapa. Tidak ada nama kontak di sana. Hanya pesan singkat: “Brrruuum.”

Brrruuum. Brrruuum. Brrruuum.

Samar dari jauh suara itu terdengar ke telingaku. Aku menegakkan tubuh. Napasku tertahan. Suara itu! Itu bukan suara yang aneh. Suara yang kerap kudengar. Seperti suara deru truk yang membelah kepekatan malam di tengah hutan. 

Aku berjalan mendekati jendela. Menyibak tirai yang basah kena tempias hujan. Di luar masih gelap pekat. Tidak ada truk yang terdengar. Tidak ada lampu, bahkan di rumah-rumah warga, seberkas cahaya lilin pun tak kelihatan. Tidak ada apa-apa. Yang ada hanya suara itu. Brrruuum.

Suara yang tadinya terdengar samar, kini semakin nyata. Suara itu ada. Tapi aku tidak tahu dari mana asal suara itu. Dalam pikiranku, aku mencoba untuk menganggap suara itu tiada. Sayangnya, semakin aku menjauhkan suara itu dari pikiranku, ia tetap menjadi objek dalam pikiranku. Suara itu tetap ada. Seperti paradoks ketiadaan, suara itu bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam kepalaku.

Aku memegangi kepala dengan kedua tangan. Menarik rambut ikalku kuat-kuat hanya untuk mengusir nyeri. Denyutnya semakin keras saja. Kuantuk sekali ke dinding. Dua kali. Tiga kali. Hingga berkali-kali. Denyutnya tidak menghilang, malah semakin hebat.

Suara itu terdengar lagi dan bersemayam dalam kepalaku. Berdenyut-denyut. Seperti ada sesuatu yang masuk ke dalamnya, memutar ulang ingatan yang selama ini kucoba untuk kubuang jauh-jauh. Tapi rangkaian ingatan itu menyatu kembali seperti terpusat pada satu titik dan berkumpul dalam kepalaku. 

Brrruuum.

Di sela-sela suara itu, kini aku menyadari satu hal, bayang-bayang Marlina yang mengantarku ke sebuah hutan. Aku melihatnya. Bukan dengan mata, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam. Di hutan itu, kala itu berkabut, basah, dan hidup.

“Cepat potong!” teriakku lantang. Suaraku terdengar jelas, membelah rimba yang sibuk. Para pekerja mengayunkan gergaji mesin. Suara meraung-raung, membelah batang-batang pohon besar yang sudah berdiri entah berapa puluh tahun. Aku tidak tahu pasti. Yang pasti Bos Besar sudah menunggu kedatangan kayu-kayu itu di Medan.

Satu pohon tumbang. Suaranya berdebam keras. Lalu satu lagi. Suaranya menukik tajam. Dan satu lagi. Suaranya menggema lirih. Aku berdiri tak jauh dari sana. Mengepulkan asap dari mulut yang tak pernah habis. Begitu habis sepuntung, aku menyalakan puntung yang baru. Tidak memberikan kesempatan beristirahat untuk paru-paruku. 

Aku sibuk mengawasi pohon-pohon yang tumbang. Menghitungnya dan memberikan kode-kode tertentu setelah dipotong dan dibelah. Tak lupa aku mengukur keuntungan-keuntungan yang kami dapatkan dari setiap batangnya.

Seorang pekerja muda menghampiriku, lalu membuka topinya dan berkata, “Bang, jangan semua diambil. Di sini ada penunggu.”

Aku tertawa, terpingkal-pingkal sambil memegang perut. “Zaman sudah maju, masih saja kau percaya takhayul.”

 “Ini bukan takhayul, Bang. Jin penunggu ada di mana-mana,” kata pekerja muda itu bersikukuh.

“Penunggu perutmu kosong kalau tidak kerja. Alasan saja kau ini. Cepat kerja sana!” jawabku ketus dan mulai tak senang pada pekerja muda itu.

“Bang, kalau nanti ada suara-suara aneh dalam kepala, semuanya sudah terlambat,” gumamnya pelan. 

Ia menunduk, tapi sebelum ia pergi, ia sempat berbisik pelan, nyaris tak terdengar. Seperti mengucapkan sesuatu yang menyerupai doa. Entahlah. Aku tidak tahu pasti.

“Dia memang agak laen, Pak,” kata Muzakkir sambil menyeringai.

“Kelihatan memang,” anggukku menyetujui.

Brrruuum.

Suara itu kembali menggeram. Kini lebih dekat. Lebih berat. Lebih hidup. Aku tersentak. Teringat kata-kata si pekerja muda itu yang tak pernah aku tahu namanya. Jika memang ia katakan bahwa semua sudah terlambat, berarti jin penunggu atau kutukan itu benar-benar ada. 

Hujan turun lagi. Deras. Begitulah. Air sudah mulai menggenangi kamarku. Saat aku keluar, aku tidak menemukan siapa pun. Penghuni kamar kos lainnya juga tidak terlihat. Ke mana mereka semua? 

Sejauh pandang mata aku melihat, hanya kegelapan yang tampak. Sedikit pun tidak ada berkas cahaya. Mungkin hanya cahaya yang berasal dari ponselku yang menyala. Aneh. Lalu suara itu terdengar lagi.

Kali ini bukan hanya terdengar. Lantai lorong kos bergetar pelan. Air yang menggenang membentuk riak-riak kecil seperti ada sesuatu yang sangat besar datang mendekat.

Aku menyorotkan cahaya ponsel ke ujung lorong. Lengang. Pintu-pintu kamar sedikit terbuka, menganga hitam seperti mulut gua. Tidak ada suara apa pun di sana. Tidak ada suara manusia. Tidak ada suara Nayla sang penyiar. Tidak ada suara batuk atau dengkur. Bahkan suara jangkrik dan kodok pun tidak ada lagi. Hanya suara deru mesin yang terus hidup di dalam kepalaku.

Sadar akan situasi yang semakin ganjil, aku mundur perlahan. Menyeret langkah dengan berat. Air sudah menyentuh lutut. 

“Tolooong! Tolooong!” Aku berteriak sekuat tenaga. Napasku tersengal-sengal. Dadaku makin berat. Mungkin akibat tumpukan asap yang kutimbun.

Tidak ada yang menjawab. Kini aku seperti merasa sendiri di dalam dunia ini. Kehampaan menyelimuti jiwaku sehingga aku menganggap diriku ini tidak ada. Aku mulai kehilangan harapan, kehilangan makna hidup. Ini semua akibat rasa kosong karena kesalahanku sendiri. Benar kata Marlina. Risiko pekerjaanku sangat besar. Aku berada di ujung marabahaya.

Air sudah mulai merayap ke pinggangku. Sedangkan suara yang bersemayam dalam kepalaku enggan berpaling. Langkahku semakin berat. Aku terjebak di tengah banjir. Lalu dari arah depan, aku melihat sesuatu yang bergerak. Makin lama makin cepat. Karena gelap, aku belum bisa memastikan benda itu. Jarak pandang yang membutakan membuatku sulit untuk menghindar dari benda-benda yang mengapung itu. Kini bertambah banyak. Mulai dari ukuran kecil hingga besar. Itu adalah gelondongan kayu. Aku ikut terseret. Sesekali terbenam sebelum aku mampu mencapai sebuah gelondongan kayu. Aku melihat coretan di sana. Tampak akrab sebelum akhirnya aku menyadari bahwa coretan itu adalah coretanku sendiri. 

Entah berapa lama aku terseret arus. Saat aku terbangun, langit tidak lagi gelap. Halimun menggantung di atas permukaan air yang tenang. Tubuhku terbaring di atas gelondongan kayu itu, basah dan menggigil. Lalu suara itu lagi. Kupikir suara itu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak. Suara itu kini semakin nyata, dekat, dan bukan lagi berasal dalam kepalaku, melainkan berdenyut dari dalam tenggorokanku.

Brrruuum.

Kini aku paham kenapa Marlina pergi, meninggalkan seorang kekasih, melarikan diri dari sesuatu yang mulai tumbuh menjadi mesin di dalam diriku. []

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar