Tentang kekuasaan, validasi, dan budaya yang tak kunjung berubah
Dalam sebuah instansi, sikap seorang pimpinan menjadi panutan. Namun kenyataannya, berbagai tingkah laku pimpinan tak layak menjadi contoh. Apa sebabnya? Salah satunya adalah gila hormat.
Tampuk kekuasaan yang menggiurkan telah menggelapkan mata. Pengabaian terhadap sumpah jabatan terang-terangan terjadi. Tidak ada lagi rasa malu yang seharusnya melekat pada sebongkah daging di dalam dada. Justru rasa itu hilang tak membekas. Setiap individu yang mendapat amanah untuk berkuasa merasa tergiur untuk menggandakan kekayaan. Lalu praktik korupsi mereka lakukan dengan berbagai cara.
Karena itulah negara kita tak pernah bebas dari sistem yang mengakar kuat, yakni budaya korupsi itu sendiri. Benar kata orang-orang. Selama sistem itu tidak pernah berubah, maka sampai akhir dunia pun negara kita akan tetap seperti itu. Siapa pun yang menjadi pemimpinnya.
Dan saat ini, Prabowo memimpin negeri yang katanya makmur ini. Sudah dua tahun ia memimpin. Tidak banyak perubahan. Secuil pun tidak ada kemajuan. Sebaliknya, negara ini berada di ambang kehancuran. Bayang-bayangnya sudah melangkah lewat ambang itu. Hanya menunggu waktu saja untuk benar-benar hancur.
Salah satu program yang mendapat banyak kritikan adalah makan bergizi gratis atau MBG. Program ini telah menyedot banyak anggaran. Sejak meluncur pada 6 Januari 2025, total anggaran hingga saya menulis ini berkisar 250,9 Triliun. Bukan angka yang sedikit. Ironinya, saat negara membutuhkan sumber daya untuk menangani kebakaran hutan yang asapnya telah bertamu ke negara tetatangga, pimpinan kita tidak punya solusi untuk itu. Ia malah mengadakan rapat-rapat, membahas yang tak penting, tak nyambung, bertele-tele di depan mic, tak punya visi, hanya mengulang-ulang cerita masa lalu yang sudah muak kita dengar.
Ujung-ujungnya tak jelas.
Bahkan saat asap masih berwara-wiri di langit, pimpinan kita justru membelah langit menuju ke Rusia. Alasannya untuk menghadiri undangan. Masalah dalam negeri tak kunjung selesai, ke Rusia pun hanya berkoar-koar tentang program makan bergizi gratis. Putin hanya angguk-angguk mendengar retorika sang presiden. Entah paham, entah lucu. Yang jelas, Putin tersenyum sumringah.
Pimpinan yang hanya mencari validasi dan sensasi tidak akan bertahan lama di hati rakyatnya. Apalagi yang gila hormat dan suka cari perhatian tak jelas. Jika hasrat kekuasaannya tak terpuaskan, ia marah-marah tak keruan. Mempermalukan anak buahnya di depan publik yang justru melongo melihat tingkahnya. Semua itu hanya untuk menegaskan bahwa dirinya layak mendapat penghormatan.
Tapi yang tak boleh kita lupakan adalah bahwa tampuk kekuasaan hanya bersifat sementara. Ia tak abadi. Dan pada akhirnya akan mati. Terkubur sendiri dalam pusara yang mungkin kelak tak layak dihormati.
Posting Komentar