Tahun ajaran 2026/2027, saya diberi jam mengajar sebanyak dua jam pelajaran untuk mengampu koding dan kecerdasan artifisial. Awalnya saya menolak karena saya buta terhadap masalah ini. Tapi karena tuntutan dari atas yang juga perintahnya berasal dari atasnya lagi, sebagai seorang pion, saya harus menerimanya. Dua jam pelajaran atau selama 90 menit saya harus berada di dalam kelas, hanya untuk mengeluarkan buih-buih di mulut dengan penjelasan yang saya sendiri kurang paham.
Buku untuk pelajaran koding dan kecerdasan artifisial ini memang sudah ada. Menakjubkan. Baru saja program ini digagas, tiba-tiba pihak penerbit buku telah berhasil menyusun sebuah buku paket lengkap dengan materi yang membingungkan saya. Di saat saya meminjam buku tersebut di perpustakaan, saya hanya bisa melirik ke dinding. Melihat sebuah wajah dengan senyum menyeringai di samping burung garuda.
Saya membuka beberapa lembar halaman buku tersebut. Muncul istilah-istilah yang membuat saya pusing. Di situ memang sudah dijelaskan secara rinci istilah-istilah dari dunia komputasi, saya membacanya berulang-ulang, dan sayangnya saya masih kurang paham pada istilah-istilah tersebut. Jadilah pada hari pertama, pembelajaran berlangsung kurang komunikatif. Apalagi pelajaran tersebut berada di jam terakhir, waktu yang membosankan untuk mendengar materi. Belum lagi kami harus berada di ruang kelas yang pengap. Saat siang terik merajalela, tiga kipas angin di dinding tidak akan cukup untuk memberi rasa dingin. Yang ada uap panas mulai menumpuk dan memberikan rasa hangat berlebihan pada tubuh yang berpeluh.
Permasalahan lain juga ikut menambah puyeng kepala saya. Jangankan untuk memberikan pemahaman yang susah tentang koding, anak-anak sudah disibukkan dengan pengumuman di toa agar siswa mengambil ompreng MBG. Setelah mendengar suara yang mereka tunggu-tunggu itu, beberapa utusan siswa mengambil tujuh kerat ompreng MBG. Karena saya mengajar di hari selasa, menu MBG adalah telur. Kontan saja anak-anak tak menyentuh MBG itu. Hanya mengais-ngais sedikit, lalu meletakkan ompreng dengan utuh. Sementara itu beberapa siswa lain ada yang makan secara perlahan, seperti sengaja memanfaatkan waktu yang lama agar terhindar dari penjelasan koding yang membosankan.
Koding dan Kecerdasan Artifisial yang Dipaksakan
Terus terang, kita belum sepenuhnya mampu untuk menjelaskan koding kepada anak-anak. Seperti program-program lain yang dibuat tanpa perencanaan, program koding di sekolah suatu saat akan berakhir tragis. Mungkin sama halnya dengan program-program lainnya dari pemerintah kita yang masih ego dan tidak memiliki master plan yang jelas. Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan lahirnya lembaga baru, yakni Universitas Republik Indonesia (URI). Bagi sebagian kalangan, lembaga tersebut mencerminkan bagaimana lemahnya pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan. Bukannya meremajakan lembaga-lembaga yang sudah ada untuk menangani program-program di luar akal sehat, eh malah tiba-tiba telah lahir bayi yang baru entah dari rahim siapa.
Seperti halnya koding dan kecerdasan artifisial yang kesannya terlalu dipaksakan. Era kemajuan digital yang tak terbendung seharusnya disikapi dengan lebih hati-hati. Bukan malah melibatkan diri tanpa arah yang jelas. Seperti kecerdasan artifisial yang membuai generasi kita untuk tidak lagi berpikir kritis dan kreatif. Semuanya sekarang lebih mudah dan instan. Mereka hanya perlu meramu mantra atau prompt yang diinginkan untuk menghasilkan data dan narasi tanpa koreksi. Ditelannya mentah-mentah informasi tersebut tanpa saring.
Koding dan kecerdasan artifisial adalah tantangan yang harus dihadapi dengan etika dan kejujuran, bukan dengan paksaan. Sebelum pelajaran ini dihidangkan untuk anak-anak, ada baiknya dipersiapkan terlebih dahulu guru-guru yang berkompeten di bidang ini. Bukan memaksa guru-guru bidang studi tertentu atau yang memiliki keterkaitan dengan pelajaran tersebut. Mengajari koding tidak cukup dengan menyuap konsep dan materi, tapi juga harus disertai dengan praktik. Masalahnya, beberapa sekolah kekurangan sumber daya dan sarana untuk membersamainya.
Koding yang didalamnya juga menyangkut bahasa-bahasa pemrograman membutuhkan guru yang ahli di bidang tersebut. Kini, entah apa yang diharapkan oleh negara kepada generasi muda. Menciptakan generasi yang paham teknologi atau hanya sekadar melahirkan generasi yang tahunya kolding (kolak dingin).
Posting Komentar