Hari Ini, Janji Itu Telah Tiba

Perempuan bernama Mardalena itu telah berjanji kepadaku. Ia akan kembali ke sini, ke Sarah Gala, ke kampungku yang hancur. Janji adalah janji, seperti utang, harus segera dilunasi. Pada perpisahan yang mengundang derai air mata, pandanganku mengikuti jejak perahu motor atau ketek hingga ditelan kabut. Lambaian tanganku begitu lemah, selemah angan yang hilang bersama angin. Apakah ia akan kembali? Aku meragukannya seperti janji-janji di tahun politik yang tak pernah tunai. 

“Mardalena,” panggilku lembut. Suara yang keluar seperti desah yang lenyap disapu senja. Tiba-tiba aku menangis seolah aku tidak akan pernah berjumpa lagi dengannya. Meskipun isakku begitu keras, namun tak seorang pun menggubris. 

Saat itu senja sudah berada di ambang. Aku tahu Mardalena bersama rombongan relawan harus segera kembali ke Lubok Pusaka, titik awal keberangkatan mereka untuk menuju ke Sarah Gala. Saat aku melihat ketek yang mereka tumpangi tanpa lampu penerang, wajar saja kalau mereka harus bergegas. 

“Kalau mereka terkepung gelap risikonya besar,” kata salah seorang warga yang ikut melepas kepergian mereka.

“Sungai bertambah lebar memang. Tapi banyak kayu-kayu yang masih terjebak di air,” seorang warga lain menegaskan sambil mengerutkan kening. 

Kepergian Mardalena memberikan gelita dalam hatiku. Segelita Sarah Gala yang telah lama padam. Tidak ada yang menyangka kalau dulu Sarah Gala menjadi salah satu kampung andalan dari program presiden kedua republik ini. Berduyun-duyun orang dari Pulau Jawa datang. Membuka lahan baru untuk persawahan dan memberi denyut pada kampung yang enggan bangun. Sejak mereka datang, kampungku menjadi salah satu penghasil bumi yang banyak diminati orang kota. Namun, saat perusahaan sawit mulai mengambil alih, banyak lahan di kampungku berubah fungsi. Sepanjang perjalanan, kiri dan kanan terlihat pohon-pohon sawit. Dan sekarang tidak ada yang tersisa di sini: fondasi rumah, tapal batas tanah, sawah-sawah─semuanya musnah. 

Lalu Mardalena datang bersama para relawan. Kedatangan mereka seperti membawa pelita di tengah gelita. Aku dengar dari sebuah percakapan bahwa mereka berhasil mengumpulkan donasi, memanfaatkan relasi lama saat bencana tsunami, dan kembali terpanggil untuk mengabdi kepada negeri atas nama hati nurani. Aku takjub dengan keteguhan para relawan yang tak kutemui pada pegawai pemerintahan.

“Begitu banyak kekacauan yang mereka timbulkan,” kata Mardalena saat itu. Aku hanya mengangguk. “Negara tak pernah hadir untuk kita,” lanjutnya.

Sejak dulu negara memang begitu. Bahkan negara datang hanya untuk meneror orang-orang kecil seperti kami. Menjamah setiap inci tanah-tanah warisan kami. Membeli lahan kami dengan harga paling murah melalui tangan oknum pegawai pemerintahan yang menempuh berbagai cara. Mengubah hutan kami menjadi lahan sawit. Menjadikan ibuku sebagai anak yatim menjelang masa remajanya saat tentara-tentara masuk ke kampung dengan dalih mengejar para pemberontak.

Itu cerita dulu memang. Cerita yang kerap kudengar dari ibuku. Cerita-cerita yang tak pernah berakhir dengan kebahagiaan. Seperti cerita Mardalena yang kerap mengutuk negara karena lamban mengurus korban bencana alam. Ia mengutuk presiden, menteri, gubernur, bupati, dan camat yang hanya sibuk mengadakan rapat-rapat. Sementara itu Mardalena dan para relawan justru telah turun ke titik-titik terisolasi. Ia telah menerobos titik-titik yang tak terjamah itu hingga sampai ke kampungku. Konon diberitakan ada lima puluh helikopter lalu-lalang ke daerah terisolasi. Namun, kata Mardalena, tak satu pun ia melihat ada yang melintas. Yang ia lihat sepanjang perjalanan ke Sarah Gala hanya capung-capung beterbangan memburu agas.

Aku tertawa mendengarkan penjelasannya. “Apakah kamu pernah melihat helikopter itu?” tanyanya sungguh-sungguh. Aku menggeleng. Lalu ia tersenyum. Senyuman yang membuat jakunku naik turun.

Mardalena, perempuan tangguh bertubuh kurus itu tak bisa melihat kekacauan-kekacauan itu. Aku bisa melihat bagaimana ekspresinya saat langkah pertamanya menapak Sarah Gala. Napasnya memburu seperti agas yang terburu-buru. Raut wajahnya menegang. Bibirnya bergetar, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi setiap kata tercekat di tenggorokannya. Suara itu tak hendak keluar.

“Oh, Tuhanku,” bisiknya, lalu terduduk di lumpur yang mulai memadat.

Mardalena menarik napas panjang sambil memejamkan matanya seperti mencoba meresapi sesuatu. Lalu perlahan dilepaskannya dan membiarkan matanya menangkap setumpuk gelondongan kayu yang berserak. Tak jauh dari sana ia melihatku duduk sambil memeluk lutut. Kami saling memandang dalam waktu yang cukup lama. Itulah pertemuan pertamaku dengan Mardalena.

Ia menghampiriku dan berjongkok di sisiku. Aku beringsut menjauh. Mardalena justru maju untuk memangkas jarak kami. Saat ia menyentuh lenganku yang hampir beku, aku tak melawan. Sentuhan itu seakan membawa kehangatan yang telah lama kurindukan. 

“Siapa namamu?” tanya Mardalena.

“Ikram,” jawabku pelan dan ragu sejenak.

Kami terdiam begitu lama. 

“Kenapa kamu menyendiri di sini?” tanyanya memecah kecanggungan kami. Aku hanya terdiam seperti mencoba untuk menyusun setiap kata. Tapi kata-kata itu tetap tersimpan di dalam hatiku. Kata-kata yang tak pernah terucap.

Lalu ia bangkit perlahan. Menuju ke arah posko relawan, mengambil sesuatu. Terjadi percakapan singkat di sana. Tangannya menunjuk ke arahku. Relawan yang melihat ke arahku hanya melongo. Entah apa yang mereka cakapkan di sana.

“Makanlah! Kami membawa banyak makanan ke sini.” Ia menyerahkan seporsi nasi ayam geprek dalam bungkusan styrofoam yang sudah agak peyot di ujungnya. Aku tidak menyentuhnya bukan karena ingin menolak pemberiannya, tapi aku sudah lupa bagaimana rasa lapar. Ia meletakkannya di sampingku.

“Makanlah walau sedikit,” katanya lembut.

Aku masih bergeming. Sebenarnya aku kasihan pada perempuan ini. Seharusnya dia yang lebih berhak untuk makanan ini. Lihatlah tubuhnya yang kurus dan tulang tungkainya kelihatan jelas. Perempuan itu terus mengoceh. Dari ocehannya aku baru tahu kalau namanya Mardalena. Sebenarnya perempuan ini cukup manis. Seandainya aku mengenalnya lebih dulu, mungkin aku bisa menjadikannya sebagai pacar. Ocehannya terus berlanjut, menyibak kisah-kisah masa lalunya yang menyedihkan. Ia bercerita tentang kisah cintanya yang kandas. Lalu tentang bagaimana ia bisa berakhir di Sarah Gala. 

Setelah ocehannya mulai berkurang, tanpa kata-kata, aku menarik tangan Mardalena dan membawanya ke suatu tempat.

“Tempat apa ini?” tanya Mardalena dengan mata yang berbinar-binar. 

Sebuah gelondongan kayu besar terbaring kaku di atas reruntuhan rumah. Pada badan kayu itu, ada bekas-bekas sayatan tak beraturan. Ada angka-angka seperti kode rahasia yang yang tak pernah terpecahkan. Ia benar-benar takjub karena seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat gelondongan kayu raksasa. Jika ingin memeluk pohon rebah itu, barangkali dibutuhkan tiga atau lima rentangan tangan orang dewasa. 

“Bagaimana batang kayu besar ini bisa terseret sampai kemari?” tanyanya pelan. Ia menghela napas panjang. Begitu panjang seakan-akan ingin mengutuk sesuatu yang sudah lama ingin ditumpahkan.

Aku mengajaknya untuk naik ke atas. Ia memanjatinya. Di atas sana, kami bisa melihat warga berkumpul di posko pengungsian, lalu para relawan menyalurkan bantuan, dan bocah-bocah tertawa tanpa alas kaki. Tanpa mengucapkan kata-kata, aku membiarkannya sendiri di sana. Lalu aku undur diri pelan-pelan, menghilang bersama angin. Kini dia sendiri di sana, menikmati Sarah Gala dari tempat yang tepat.

Saat para relawan mulai meninggalkan Sarah Gala, air mata tumpah tak terbendung. Mardalena berusaha mencariku hanya untuk sekadar mengucapkan kata perpisahan, tapi ia tidak menemukanku. Sementara itu kaki senja mulai melangkah ke kampungku. Pengemudi ketek tergesa menghidupkan mesin. Bukan karena mereka tak tahu jalan kembali, tetapi enggan terkurung dalam kabut malam.

Ketek perlahan bergerak meninggalkan tepian. Lambaian tangan saling berbalas. Di sela-sela barisan warga, mata Mardalena terperangkap pada sosok laki-laki lusuh tak beralas kaki dengan wajah pucat dan sembab. Ia bangkit perlahan, tapi ketek tak membiarkan tubuhnya tegap. Lalu ia membungkuk sedikit.

“Ikraaaaaam, aku akan kembali!” teriaknya sambil melambaikan tangan. Namun suaranya tenggelam oleh deru mesin ketek.

Dan hari ini, janji itu telah tiba. 

Begitu ketek menepi, Mardalena langsung melesat ke arah gelondongan kayu yang masih tampak seperti semula, tempat ia pertama kali bertemu denganku. Ia tidak menemukanku di sana. Hanya ada sekumpulan bocah. Ia mencari ke setiap sudut Sarah Gala, ke tempat pemuda-pemuda berkumpul, ke tempat balai desa darurat, mengintip ke dalam tenda-tenda darurat, memanjati gelondongan kayu raksasa dan mulai memindai seluruh Sarah Gala dari sana. Ia tidak menemukanku.

“Bu, apa ibu melihat Ikram?” tanyanya kepada seorang perempuan yang kebetulan lewat.

Perempuan itu hanya terdiam. Memperhatikan wajah Mardalena sambil mengerutkan keningnya. 

“Ikram, yang tingginya segini,” kata Mardalena lagi sambil mengarahkan tangan melewati kepalanya. “Umurnya kira-kira tiga puluh tahun dan dia memiliki rambut ikal tipis,” ia menjelaskan lagi ciri-ciri tubuhku.

“Dek,” kata perempuan itu perlahan, “Ikram bersama puluhan warga lainnya adalah korban banjir. Hingga kini kami belum menemukan tubuhnya.”

“Tapi,” sela Mardalena tidak percaya, “minggu lalu aku melihatnya di sana.” Ia menunjuk ke arah gelondongan kayu tempat di mana aku tak pernah beranjak.

Perempuan itu merinding seakan tak percaya pada apa yang dikatakan Mardalena.

“Dek, di bawah gelondongan kayu itulah rumahnya.”

 Aku hanya bisa menatap wajahnya yang muram tanpa bisa berbuat apa pun. []

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar