Dunia semakin bergerak ke arah yang tidak biasa. Ke arah yang semakin absurd, gila, dan selalu ingin dipuji. Hal-hal kecil yang dilakukan seseorang, terlepas dari apakah itu penting atau malah tidak berguna, seolah-olah harus diberi panggung agar mendapatkan perhatian. Seseorang merasa perlu memberikan citra yang baik kepada dirinya sendiri, lalu berharap orang lain mengamini citra tersebut.
Dulu kita sering mengenal istilah narsis. Istilah yang sekarang mungkin mulai terdengar biasa dan kehilangan daya gigitnya. Setelah itu muncul istilah pencitraan, sebuah kata yang begitu populer dalam percakapan politik dan sering dialamatkan kepada para politisi, termasuk mantan presiden kita, Joko Widodo. Kini istilah pencitraan pun seperti mulai tenggelam. Muncul istilah baru yang terasa lebih halus, lebih psikologis, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: validasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, validasi berarti pengesahan atau pengujian kebenaran atas sesuatu. Dalam dunia data dan penelitian, validasi diperlukan untuk memastikan apakah sesuatu dapat dipercaya. Dalam konteks psikologi, istilah validasi juga memiliki makna yang berbeda. Ia dapat merujuk pada pengakuan atau penerimaan terhadap perasaan seseorang. Ketika seseorang bercerita tentang kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, atau pengalaman hidupnya dan berharap orang lain mendengarkan serta memahami perasaannya, ia sedang membutuhkan validasi emosional.
Pada titik ini, validasi bukan sesuatu yang buruk. Bukankah setiap manusia memang ingin didengarkan? Bukankah kita semua sesekali membutuhkan seseorang yang berkata, “Aku mengerti perasaanmu”?
Masalahnya muncul ketika kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan berubah menjadi kebutuhan untuk terus-menerus dipandang.
Validasi kemudian tidak lagi sekadar tentang perasaan. Ia berubah menjadi pembuktian tentang diri sendiri. Kita ingin menunjukkan bahwa kita bahagia, sukses, pintar, produktif, berpengaruh, memiliki banyak teman, bepergian ke tempat-tempat tertentu, membaca buku tertentu, makan makanan tertentu, atau berada dalam lingkungan tertentu. Semua itu tidak cukup hanya dirasakan. Ia harus diperlihatkan.
Media sosial menjadi panggung yang paling mudah untuk melakukan semua itu.
Kita mengunggah foto, menulis status, membuat video, membagikan pencapaian, menunjukkan aktivitas sehari-hari, kemudian menunggu reaksi orang lain. Satu like terasa seperti tepukan di pundak. Komentar menjadi semacam pengakuan. Jumlah pengikut berubah menjadi angka yang seolah-olah menentukan seberapa berharga keberadaan seseorang.
Tidak ada yang salah dengan berbagi cerita. Media sosial memang dibuat untuk itu. Persoalannya adalah ketika kita mulai mengukur harga diri berdasarkan respons orang lain.
Kita mulai bertanya: berapa orang yang menyukai unggahan saya? Mengapa unggahan teman saya mendapatkan lebih banyak perhatian? Mengapa tidak ada yang memberikan komentar? Apakah saya kurang menarik? Apakah kehidupan saya tidak cukup menyenangkan?
Pada akhirnya, kita bukan lagi sekadar menggunakan media sosial. Kita mulai hidup untuk media sosial.
Dunia semakin riuh dengan gegap-gempita media sosial. Setiap hari, jutaan unggahan dari berbagai platform menjadi santapan para pengguna internet. Jempol terus bergerak mengusap layar gawai. Satu video selesai, video berikutnya muncul. Satu berita dibaca sekilas, berita lain datang menggantikannya. Satu perdebatan belum selesai, perdebatan lain sudah menunggu.
Kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari hiburan sesaat dan informasi yang serba instan.
Di sinilah saya mulai merasa ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Bukan karena media sosial sepenuhnya buruk. Bukan pula karena teknologi harus kita jauhi. Saya sendiri tidak mungkin menyangkal manfaat teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial dapat mempertemukan manusia yang berjauhan, menyebarkan informasi, menjadi ruang belajar, mempromosikan karya, bahkan membantu seseorang menemukan komunitas yang selama ini tidak ia temukan di dunia nyata.
Namun, segala sesuatu yang terlalu mudah dikonsumsi dapat membuat kita kehilangan kesabaran untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam.
Informasi datang terlalu cepat. Pendapat muncul sebelum fakta selesai diperiksa. Judul menggantikan isi. Potongan video menggantikan konteks. Orang-orang membuat kesimpulan hanya dari beberapa detik tayangan. Kita semakin terbiasa dengan sesuatu yang cepat, pendek, dan segera memberikan kepuasan.
Pelan-pelan kita kehilangan kebiasaan untuk membaca sampai selesai. Kehilangan kesabaran untuk mendengarkan. Kehilangan kemauan untuk bertanya. Bahkan kehilangan keinginan untuk mencari tahu.
Apakah kita menyadari bahwa bahaya terbesar media sosial bukanlah banyaknya informasi palsu yang beredar. Ada bahaya lain yaitu kemampuan kita untuk menerima informasi tanpa merasa perlu memeriksanya. Kita merasa sudah tahu hanya karena telah melihat sebuah video berdurasi beberapa puluh detik. Kita merasa memahami sebuah persoalan hanya karena membaca satu unggahan. Kita merasa mengenal seseorang hanya karena melihat apa yang ia tampilkan di layar.
Padahal kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada sebuah unggahan. Orang yang terlihat bahagia belum tentu hidupnya tanpa masalah. Orang yang sering tersenyum di depan kamera belum tentu selalu merasa baik-baik saja. Orang yang tampak sukses belum tentu terbebas dari kegagalan. Begitu pula sebaliknya, orang yang jarang muncul di media sosial bukan berarti kehidupannya kosong.
Kita sering keliru menganggap apa yang tampak sebagai keseluruhan kenyataan. Di sinilah pencarian validasi menjadi semakin rumit. Seseorang yang terus-menerus mencari validasi bisa saja perlahan kehilangan hubungan dengan kehidupan nyata. Ia mencari kenikmatan sosial di dunia maya. Membuat konten demi menegaskan bahwa dirinya ada, bahwa dirinya eksis, bahwa dirinya layak diperhatikan.
Namun, ada ironi di sana.
Semakin keras seseorang berusaha membuktikan bahwa dirinya ada di dunia maya, semakin mungkin ia justru kehilangan dirinya di dunia nyata. Ia memiliki banyak pengikut, tetapi sedikit teman yang benar-benar mengenalnya. Ia mendapatkan banyak komentar, tetapi tidak memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara ketika malam menjadi terlalu sunyi. Ia dikenal oleh banyak orang, tetapi mungkin tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Meskipun tidak semua terperangkap dalam asumsi ini.
Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang yang aktif di media sosial adalah pencari validasi. Tidak. Saya juga tidak percaya bahwa satu generasi tertentu lebih buruk daripada generasi lainnya. Setiap generasi memiliki bentuk pencarian pengakuannya sendiri. Dahulu manusia mungkin mencarinya melalui pakaian, jabatan, kekayaan, kendaraan, rumah, atau kedudukan sosial. Sekarang sebagian bentuk itu berpindah ke layar.
Perbedaannya hanya pada kecepatan dan luasnya jangkauan. Dulu seseorang mungkin hanya membutuhkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Sekarang ia dapat mencarinya dari ribuan bahkan jutaan orang yang tidak pernah ia temui. Dan mungkin itulah yang membuat zaman ini terasa berbeda.
Pada perkembangannya, tidak semua generasi menjadi gila validasi. Masih banyak orang yang mampu hidup tanpa merasa harus mengumumkan setiap kebahagiaan. Masih banyak orang yang membaca tanpa perlu memotret bukunya. Masih banyak orang yang bepergian tanpa merasa wajib mengunggah setiap tempat yang dikunjunginya. Masih banyak orang yang melakukan kebaikan tanpa merasa perlu memberitahukan kepada dunia bahwa dirinya telah berbuat baik.
Mereka ada. Hanya saja mereka tidak selalu terlihat. Sebab barangkali memang begitulah kehidupan yang sebenarnya. Hal-hal yang paling berharga tidak selalu membutuhkan penonton.
Kebaikan tidak kehilangan nilainya hanya karena tidak mendapatkan like. Sebuah keberhasilan tidak menjadi lebih kecil hanya karena tidak diketahui orang lain. Sebuah perjalanan tidak menjadi kurang bermakna hanya karena tidak masuk ke dalam story. Dan kebahagiaan tidak harus dibuktikan dengan sebuah foto.
Ada sesuatu yang menenangkan dari kehidupan yang tidak perlu dipertontonkan. Saya mulai berpikir bahwa mungkin kita perlu sesekali keluar dari keramaian itu. Menjauh dari layar. Membiarkan dunia berjalan tanpa harus selalu mengetahui apa yang dilakukan orang lain, sekaligus membiarkan orang lain tidak mengetahui apa yang sedang kita lakukan.
Sebab hidup bukan perlombaan untuk mendapatkan perhatian. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi konten. Kita juga tidak harus terus-menerus membuktikan bahwa kita berharga.
Barangkali, pada akhirnya, kedewasaan adalah ketika kita mampu melakukan sesuatu yang baik tanpa menunggu tepuk tangan. Mampu bahagia tanpa membutuhkan penonton. Mampu gagal tanpa merasa harus menjelaskan kepada semua orang. Dan mampu menjalani hidup tanpa terus bertanya apakah orang lain menyukai cara kita menjalaninya.
Karena ada satu bentuk validasi yang sering kita lupakan: validasi dari diri sendiri.
Sudah mampukah kita melawan diri sendiri? Melawan ego, melawan nafsu, melawan keserakahan, dan lainya. Sebagai manusia yang sedang bertumbuh, kita tidak membenarkan semua kesalahan. Tidak semua hal harus sempurna. Tidak semua musuh harus dikalahkan dalam sekejap. Kita lahir dari ketidaksempurnaan itu. Dan kita tahu tidak semua orang harus memvalidasi kita.
Dan mungkin, ketika kita sudah tidak terlalu sibuk mencari pengakuan dari luar, kita justru mulai menemukan sesuatu yang selama ini hilang di dalam diri sendiri.
Diri kita.

Posting Komentar