Tersentak mendengar kata anjing, Pak Mustafa urung mengetuk pintu kelas. Darahnya mendidih seketika seperti gunung berapi yang siap meletus. Tanpa memberi salam seperti biasa, Pak Mustafa langsung masuk ke kelas. Ia membanting buku absen dan buku pelajaran ke atas meja seperti ingin memuntahkan lahar amarah di dadanya. Suara bantingannya begitu keras sehingga membuat beberapa murid terperanjat. Lalu pandangannya menyapu sekeliling kelas seperti seekor harimau yang menyasar mangsanya.
“Siapa yang bilang anjing?” tanya Pak Mustafa, tegas dan keras. Suasana kelas yang biasanya gaduh dan semrawut saat Pak Mustafa mengajar tiba-tiba menjadi hening — sehening upacara bendera saat hening cipta dimulai.
Tak ada seorang pun yang ingin menjawab seolah-olah pertanyaan itu hanyalah desau angin yang lewat. Juga tak ada seorang murid pun yang hendak mengangkat jari telunjuknya untuk mengakui perbuatannya. Yang ada hanya dua murid perempuan, cekikikan tak jelas sambil berbisik. Sementara itu, dua murid laki-laki setengah gaduh seperti tak menyadari kehadiran guru mereka.
Wajah Pak Mustafa mengeras ketika tak seorang murid pun menggubris pertanyaannya. Kemeja yang dikenakannya telah basah. Keringat mengalir dari sekujur tubuhnya. Napasnya masih tersengal-sengal. Tadi ia buru-buru mengejar waktu karena takut terlambat.
Beberapa saat sebelum bel masuk berbunyi, dari kejauhan Pak Mustafa tampak kewalahan mendorong sepeda motor Beat karbu yang mendadak mesinnya mati. Ia telah berupaya untuk menghidupkannya dengan cara menekan starter-nya berulang kali, lalu mencoba mengengkolnya. Tapi usahanya sia-sia. Yang ada hanya keringat mengucur deras seperti derasnya hujan di bulan November.
Beat 2010 itu menjadi harta paling berharga dalam hidupnya. Berkat sepeda motor itu, ia bisa menempuh perjalanan selama sekitar tiga puluh menit yang menjemukan, asalkan tak terjebak kemacetan pada jam sibuk. Sepuluh tahun lalu, ia harus menyibak selimut dan melawan udara pagi untuk bisa mendapatkan minibus pertama yang melayani trayek Lhokseumawe – Aceh Utara. Hampir satu jam perjalanan dilaluinya karena minibus lebih sering berhenti daripada mengaspal. Kadang-kadang begitu turun dari minibus, badannya pegal-pegal dan masuk angin.
“Siapa yang tadi bilang anjing?” Pak Mustafa menegaskan pertanyaannya dengan suara parau yang bergetar, tapi setiap kata keluar dengan tegas. Kelas mulai bergeming, sunyi mendadak seakan detak jam dinding ikut berhenti. Belum ada seorang pun berani mengangkat tangan. Bahkan beberapa murid hanya menunduk, tubuh mereka seolah ingin membenam ke bawah meja, menghilang dari pandangan sang guru. Mereka enggan menatap Pak Mustafa yang mendadak berubah menjadi guru killer.
Pak Mustafa lagi-lagi menggebrak meja dengan seluruh tenaga. Suaranya bergema, menghujam telinga murid-murid yang terpaku pada kursinya. Ia perlu menunjukkan ketegasan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan — agar setiap murid menyadari, bahwa sang guru perlu dihormati dan bukanlah sosok yang bisa diabaikan begitu saja.
“Kamu?” tunjuk Pak Mustafa dengan mata merah menyala pada murid perempuan yang cekikikan tadi. “Kenapa kamu tertawa? Apa kamu menertawakan Bapak?”
“Kamu?” tunjuk Pak Mustafa kepada murid laki-laki yang setengah gaduh tadi. “Apa kamu tidak punya sopan santun? Apa kamu tidak diajarkan adab di rumah?”
Suasana kelas berubah menjadi bahang yang menyesakkan dada. Beberapa murid barangkali tak menyangka perubahan sikap Pak Mustafa. Selama ini, mereka beranggapan bahwa Pak Mustafa adalah guru yang baik karena tak pernah memarahi murid-muridnya. Bahkan kata-kata teguran nyaris tak meluncur dari mulutnya. Apakah mereka hari ini dijadikan bahan lelucon untuk konten media sosial? Salah seorang murid melongok keluar untuk melihat apakah ada kamera tersembunyi atau seseorang yang merekam diam-diam.
“Kalian ini tidak punya otak! Tidak punya adab! Tidak punya sopan santun! Dasar anak-anak badung!”
Beberapa anak kini tampak ketakutan. Mereka tak menyangka titik balik itu akan datang. Kemarahan yang mungkin sudah bertumpuk-tumpuk di dada Pak Mustafa, kini saatnya ditumpahkan dengan begitu dahsyat. Mereka belum pernah melihat kemurkaan itu, kemurkaan yang menekan setiap sudut kelas, membuat udara terasa berat.
“Kalian ini generasi penerus bangsa. Mulut kalian yang kotor itu tidak mencerminkan karakter bangsa kita sebagai bangsa yang santun. Apalagi sebagai orang Aceh. Seharusnya kalian malu. Aceh ini adalah negeri syariat Islam. Agama melarang kita untuk berbicara kotor.”
Terbantu oleh heningnya kelas yang menekan, Pak Mustafa memberikan petuah bijak di balik amarahnya. Ini menjadi momen langka baginya. Setiap kali ia memberikan nasihat, biasanya murid-murid hanya setengah mendengarkan. Mereka menanggapi nasihatnya dengan santai. Bahkan mereka saling bercerita dengan teman sebangku, bercanda, dan merayap ke bangku teman lainnya. Belum lagi ada beberapa murid yang minta permisi keluar dengan alasan ke kamar mandi, padahal mereka berbelok ke arah kantin.
Di kalangan guru, ia dianggap sebagai guru yang tak mampu mengelola kelas dengan baik. Pernah suatu kali saat ia asyik menulis sesuatu di papan tulis dan menoleh ke belakang, hampir setengah muridnya sudah menghilang. Entah bagaimana cara mereka keluar tanpa sepengetahuan Pak Mustafa.
Tapi sekarang, waktu berjalan kian lambat. Seorang murid menatap pilu ke arah jam dinding. Sudah lima belas menit berlalu, tak seorang pun yang berani meminta izin keluar dari kelas.
“Bapak tanya lagi. Siapa yang tadi bilang anjing?”
Mata Pak Mustafa menatap satu per satu muridnya. Ia menggertakkan giginya, masih menyimpan amarah yang terpendam. Rahangnya terkatup. Tangannya terkepal. Ia tampak seperti meratapi nasibnya yang sial seakan beban hidupnya terus bertumpuk. Dalam beberapa hari ke depan, pengawas sekolah akan datang untuk memeriksa administrasi pembelajaran guru. Jika tak selesai, maka pengawas sekolah mengancam tak akan menandatangani berkas sertifikasi. Ia belum bisa menyelesaikannya karena laptopnya rusak dan tak bisa diperbaiki lagi. Sedangkan semua dokumen yang diperlukan ada di dalam laptop. Beban itu terasa mengimpit hidupnya.
“Siapa yang bilang anjing?”
Tak ada yang menjawab. “Baik, kalau tidak ada yang mengaku. Maka seluruh murid akan terkena dampaknya.”
Hari itu, sebagian murid mengenakan pakaian olahraga. Hanya beberapa orang saja yang memakai kemeja putih dan celana biru.
“Muhammad Yakob! Abdul Samad! Yusuf Hasibuan. Joko Mulyono Wibowo. Ismail Pakeh.” Ia menyebut beberapa nama murid yang bisa diingatnya. “Kenapa kalian memakai baju olah raga, hah?”
“Hari ini ada pelajaran olahraga, Pak!” jawab Joko Mulyono Wibowo tanpa ragu.
“Aturan dari mana itu?” Pak Mustafa dengan susah payah menegakkan badan, suaranya berderak tajam di seluruh kelas. “Mulai minggu depan, ketika Bapak masuk, tidak ada lagi yang boleh memakai baju olahraga, paham?”
Beberapa murid mengangguk cepat.
“Pakaian olahraga hanya boleh kalian pakai saat jam pelajaran olahraga saja. Sesudah itu, kalian ganti lagi dengan seragam sekolah. Apabila kalian melanggar, Bapak akan usir kalian dari kelas. Paham?” Pak Mustafa menegaskan kembali kata-katanya, memastikan aturan itu tersimpan dalam ingatan mereka.
“Paham, Pak!” Kali ini murid-murid menjawab serempak. Suasana sudah mulai mencair. Tapi tidak bagi Pak Mustafa. Pipinya yang tembem masih memerah, menandakan ia masih kesal. Tiba-tiba, dengan susah payah Pak Mustafa berdiri karena perutnya yang buncit. Ia berjalan mengelilingi kelas sambil mengamati kembali murid-muridnya. Setelah hampir tiga puluh menit, belum ada tanda-tanda murid yang mengakui perbuatannya.
“Bapak tanyakan kembali. Siapa yang tadi bilang anjing?”
Murid-murid kembali menunduk dan menatap meja yang penuh coretan. Mereka lebih memilih diam dan menghindari tatapan Pak Mustafa.
“Sekarang, semua murid laki-laki maju ke depan!” perintah Pak Mustafa.
Murid laki-laki pun bergegas maju ke depan dan membentuk dua saf. Karena tak rapi, Pak Mustafa kembali memarahi mereka. Tapi tetap saja ada satu atau dua murid yang usil. Pak Mustafa mengabaikannya. Ia tampak sibuk melihat layar ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, menandakan ada pesan WhatsApp masuk. Ia mengernyitkan dahi sambil mengetik di ponselnya.
Ia membalas pesan dari istrinya yang meminta dikirimkan uang seratus ribu rupiah. Ada paket COD yang harus dibayar oleh istrinya. Akhir-akhir ini, hubungannya dengan sang istri kurang berjalan dengan baik. Mereka lebih kerap bertengkar daripada bermesraan.
“Sudah hampir dua puluh tahun aku menikah denganmu, mobil saja kita tak punya. Padahal aku juga ingin jalan-jalan ke Takengon seperti tetangga kita itu,” omel istri Pak Mustafa pada suatu hari.
Pak Mustafa, yang baru saja menyuapkan nasi ke mulutnya, hampir saja membanting piringnya. Tapi urung ia lakukan. Ia berusaha sabar meskipun tampak jengkel. “Selalu itu yang kamu omongin. Seharusnya kita bersyukur. Kita tidak kelaparan,” katanya sambil menghentikan makan siangnya yang belum selesai. Ia minum seteguk air putih dan berlalu dari hadapan istrinya. Menghindari perdebatan lebih baik daripada harus meladeninya.
Pak Mustafa menatap layar ponselnya dengan sorot mata sendu. Sisa saldo di rekeningnya mungkin hanya bisa bertahan untuk beberapa hari saja. Dengan menghela napas panjang, ia mengetik angka seratus ribu dan mengirimkan ke rekening istrinya.
Sebagai seorang guru PNS golongan 3d, gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tapi kredit bank telah mengacaukan segalanya. Kini jangankan untuk membeli mobil, bahkan mengganti sepeda motor yang sudah tua pun harus tertunda.
Lima belas murid laki-laki telah berdiri di depan kelas. Selanjutnya Pak Mustafa menyuruh seluruh murid perempuan untuk berdiri rapi di belakang kelas.
Ia memanggil satu per satu muridnya untuk diwawancarai.
“Siapa yang bilang anjing?” tanya Pak Mustafa.
“Tidak tahu, Pak!” jawab salah seorang murid.
“Apa ada yang kamu curigai?”
Sang murid melihat ke arah teman-temannya. “Tidak tahu, Pak.”
Seluruh murid laki-laki memberikan jawaban yang sama seakan mereka satu komplotan. Saat beralih kepada murid perempuan, Pak Mustafa juga mendapatkan jawaban yang sama seolah semua murid saling bersepakat.
“Baiklah, karena belum ada yang mengaku, maka Bapak tidak akan keluar dari kelas. Bapak akan menelepon guru olahraga untuk meminta waktu tambahan jam pelajaran sebelum Bapak menemukan siapa yang bilang anjing.”
“Halo, Pak Tahir!” Pak Mustafa memperdengarkan isi pembicaraan mereka di hadapan murid-murid. “Begini, Pak! Saya ingin meminta jam pelajaran Bapak untuk saya. Ada masalah yang harus saya selesaikan. Kebetulan saya pun tidak ada kelas lain setelah ini.”
“O, silakan, Pak Mustafa. Tidak masalah. Dengan senang hati saya berikan,” jawab Pak Tahir.
Murid-murid tampak kasak-kusuk dan merasa tidak senang. Pelajaran yang paling mereka idolakan ikut menjadi korban.
“Jangan karena membela satu orang yang salah, semua ikut merasakan akibatnya,” Pak Mustafa mulai berceramah lagi. “Katakan yang benar meskipun pahit. Kalian semua juga tahu, kalau berdusta itu tidak baik. Perbuatan dosa. Bisa masuk api neraka.”
Bel pergantian jam pelajaran tiba-tiba berbunyi. Sudah dua jam pelajaran Pak Mustafa berada di kelas VIII-3. Tapi ia belum juga berhasil menemukan murid yang mengatakan anjing. Waktu terus berlalu, merambat perlahan di sela-sela helaan napas murid-murid yang resah.
Tiba-tiba salah seorang murid mengangkat jari telunjuk.
“Pak, saya yang bilang anjing.”
Semua mata tertuju padanya. Beberapa mulut ternganga seakan tak percaya. Tawa sinis terdengar dari sudut ruangan. Ada juga yang berbisik pelan. Ada yang tampak senang. Malah ada yang tak peduli.
Pak Mustafa menyuruh murid itu maju ke depan. “Alif Mardiansyah, apa betul kamu yang bilang anjing?”
“Betul, Pak!”
“Tapi Bapak tidak percaya. Bapak tahu bagaimana kelakuan kamu sehari-hari. Kamu bukan anak badung dan tidak suka mengganggu orang. Malah kamu ini lebih sering kena rudung. Kamu ini anak yang baik, sopan, ngomongnya juga lembut. Terus kenapa… kenapa kamu yang harus jadi tumbal?”
“Iya, Pak! Tidak mungkin Alif yang bilang anjing,” kata Sri Wahyuni, salah seorang murid perempuan yang aktif di kelas sekaligus sekretaris kelas. Lalu ia mendekati Pak Mustafa dan berbisik sesuatu. Pak Mustafa hanya mengangguk pelan.
“Baiklah! Sekarang semuanya duduk di tempat masing-masing, kecuali Ahmed Sahrani.”
Saat nama itu disebutkan, beberapa anak saling pandang. Beberapa lainnya langsung menunduk. Meskipun demikian, semua murid lega. Mereka terlalu lelah karena berdiri lama.
“Apakah betul kamu yang bilang anjing, Ahmed Sahrani?” tanya Pak Mustafa dengan nada lembut. Kali ini kemarahannya mulai reda.
Ahmed Sahrani tertawa sinis. Di kelas VIII-3, dia adalah murid yang memiliki fisik kuat dengan tubuhnya yang tegap dan bahunya yang bidang. Dia cukup kuat untuk bisa disebut sebagai penguasa kelas.
“Bukan, Pak. Bukan saya yang bilang anjing.” jawabnya santai. Tak ada rasa takut. “Tapi, Pak!” Ahmed Sahrani membisikkan sesuatu ke telinga Pak Mustafa.
Kelas kembali gaduh. Wajah-wajah berubah. Pak Mustafa hampir menyerah. Ia mengantongi beberapa nama dari bisikan-bisikan Sri Wahyuni dan Ahmed Sahrani. Kini ia bingung harus percaya pada siapa.
Lalu bel istirahat berbunyi panjang.
Anak-anak bersorak gembira. Pak Mustafa tak bisa menghalangi keinginan mereka untuk keluar pada saat jam istirahat. Itu adalah waktu kebebasan bagi anak-anak yang menganggap ruang kelas bagai penjara. Pak Mustafa berdiri seraya membenarkan celananya yang mulai melorot. Ia hanya terpaku melihat anak-anak yang berhamburan keluar.
Setelah semua murid keluar, matanya tertuju pada buku pelajaran yang terbuka di atas meja. Ia membaca lirih judul materi yang seharusnya diajarkan hari ini: “Nilai-nilai Kejujuran dalam Kehidupan.”
Ia menutup buku itu pelan, lalu melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.
Posting Komentar