Di antara lengking sirene berkepanjangan penanda serangan baru akan datang, di antara kepanikan warga kota yang mencari tempat perlindungan terdekat, di antara tangisan anak-anak yang ketakutan, ada seorang lelaki tua berjalan gontai dengan topi komando lusuh, sebilah tongkat kayu yang diukir menyerupai senapan, dan sebuah tas selempang kecil dekil yang isinya tak seorang pun tahu. Aku berpapasan dengannya saat memasuki bunker.
Ketika sirene berbunyi, warga kota harus meninggalkan seluruh aktivitasnya dan masuk ke bunker masing-masing. Bagi yang memilih bunker umum, petugas akan menggiring mereka untuk memasuki bunker seperti menggiring ternak yang baru pulang dari padang gembala. Ada beberapa bunker yang disediakan. Tapi aku lebih memilih bunker ini walaupun jaraknya agak jauh dari tempat tinggalku. Bunker di sini lebih luas. Berbeda dengan bunker-bunker lain yang lembap dan minim cahaya, di sini cahaya melimpah dan generator listriknya tidak bising. Bunker ini pernah dijadikan tempat berpesta muda-mudi sebelum rudal menyerang. Warga kota merasa nyaman berada di sini. Mungkin satu-satunya yang merusak kenyamanan di bunker adalah kehadiran lelaki tua itu.
Malam itu, entah bagaimana aku duduk tak jauh dari tempatnya. Mungkin setelah berpapasan tadi, kami langsung mengarah menuju tempat yang sama. Aku duduk mendekam lutut. Hidungku mencium sesuatu. Bau busuk. Baru aku menyadari bahwa bau itu berasal dari aroma tubuhnya. Perutku tiba-tiba bergejolak. Beberapa waktu lalu aku sempat makan hummus, pasta kacang Arab. Hummus dalam ususku serasa ingin keluar dari tenggorokanku. Aku menutup mulut dengan rapat. Berusaha untuk tidak muntah. Aku menggeser sedikit ke kanan. Menjauh perlahan-lahan dari lelaki tua itu. Barangkali ini salah satu alasan kenapa dia sering diusir menjauh dari kawanan orang-orang saat berada di bunker. Mereka pastilah tidak sanggup mencium aroma busuk dari tubuhnya.
Beberapa malam yang lalu, aku pernah melihatnya dijauhi oleh sekawanan anak-anak yang bermain. Saat lelaki tua itu mendekat, anak-anak keburu kabur. Tapi bukan karena bau badannya, melainkan tingkahnya yang aneh. Inilah alasan kedua kenapa dia tidak bisa diterima dalam komunitas warga kota. Sebelum rudal-rudal datang, lelaki tua itu kerap meracau tak jelas di alun kota, mengeluarkan suara-suara yang mirip tembakan, bahkan meniru suara ledakan. Bhuuuum! Terkadang ia tiarap dan mengarahkan senapan kayunya ke sembarang orang seolah-olah sedang menembak musuh.
“Kemarilah, wahai anak muda!” Ia memanggilku. Jarak kami hanya beberapa depa. Aku bergeming dan menunggu reaksinya.
Dhuaaaaar! Di luar sana, rudal-rudal terus dihalau. Kami memiliki alat penghalau rudal yang canggih. Secepat apa pun rudal yang dimiliki musuh, rudal itu tidak akan sempat menyentuh tanah. Jika pun ada rudal yang menghantam bunker ini, kami yakin tidak akan bisa menghancurkannya. Musuh tidak memiliki rudal penghancur bunker. Apalagi bunker ini terbuat dari lapisan dinding beton bertulang dan logam baja yang berlapis.
Perang telah berlangsung selama tiga bulan. Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku kalah karena masing-masing ingin menjadi pemenang perang.
“Siapa namamu, anak muda?” tanya lelaki tua itu seraya mengulurkan tangan. Kata orang-orang dia tidak waras. Aku jadi ragu untuk menyambut uluran tangannya. Pakaiannya kotor, terdapat beberapa bekas tambalan, rambutnya menongol kusut di bawah topi komandonya, tak pernah dirawat dengan baik. Tapi satu-satunya benda yang terjaga adalah senapan kayu yang terus mengilap.
“Benjamin,” jawabku singkat dengan mulut masih tertutup dengan tangan. Aku menolak berjabat tangan dengannya.
“Netanyahu?” ujarnya, spontan dan diikuti seringai senyum mengejek.
“Bukan! Rivlin.”
“Aha! Benjamin Rivlin. Nama yang bagus. Mendekatlah!” Dia menyuruhku untuk mendekat. Sial! Apa dia tidak menyadari bahwa aroma busuk tubuhnya sangat mengganggu kenyamanan orang lain.
Karena aku masih bergeming, dia yang mendekat ke sampingku. Tiba-tiba sebuah ledakan besar terdengar. Lampu padam sejenak. Tapi beberapa detik kemudian, lampu menyala dan keadaan di bunker normal kembali.
“Perang ini tidak akan pernah berakhir selama setan masih berkuasa,” katanya pelan, tatapan matanya menyapu seisi ruangan bunker.
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Kali ini, aku setuju dengannya lewat anggukan kecil.
“Perang ini tidak akan pernah berakhir selama setan masih berkuasa,” katanya mengulang kembali, tapi dengan intonasi yang lebih lantang. Kini orang-orang berbalik menatapnya tajam, lalu membuang pandang ke arahku. Aku menjadi bersalah sendiri dan memberi isyarat tangan bahwa aku dan lelaki tua itu tidak memiliki hubungan apa pun.
“Kek, tenanglah!” ujarku sambil menarik ujung bajunya. Kali ini aku tidak menggubris aroma busuk lagi.
“Kita harus hidup dari bom ke bom. Dari satu masa ke masa. Bertahun-tahun seakan sejarah tak pernah henti menulis tentang kita, tentang tanah yang diperebutkan sejak nenek moyang mengenal agama-agama.” Lelaki tua itu mulai meracau. Tapi menurutku, racauannya cukup jelas dan sesuai dengan fakta.
“Demi Tuhan! Aku menyesal dilahirkan di tanah yang penuh noda darah ini. Seandainya aku bisa kabur ke belahan dunia lain, maka aku akan pergi. Tapi tidak semua negara mau menerima kita.” Matanya menerawang ke atap bunker seperti berharap ada lorong ajaib yang bisa membawa ke tempat yang penuh kedamaian.
Tiba-tiba suara ledakan terdengar lagi. Kali ini begitu dekat. Anak-anak dan beberapa perempuan muda menjerit histeris sambil menutup telinga mereka. Aku berpikir bahwa sebuah rudal gagal dihalau. Meskipun negara kami memiliki sistem pertahanan udara yang canggih berkat bantuan sekutu, tapi tetap saja ada satu atau dua bahkan lebih dari rudal-rudal musuh yang berhasil mendarat. Guncangannya begitu dahsyat. Ternyata rudal musuh telah mengalami peningkatan. Kami tidak boleh lagi meremehkannya.
Beberapa hari yang lalu, rudal-rudal yang lolos menghancurkan sebuah apartemen. Awalnya media melaporkan tidak ada korban jiwa karena warga kota telah mengungsi ke bunker. Tapi sehari kemudian, media tersebut meralat laporannya dan menyatakan ada beberapa warga kota yang tewas karena enggan masuk bunker. Mengenai jumlah korban di pihak kami seringkali dipalsukan. Konon baru aku tahu bahwa pemalsuan data jumlah korban adalah bagian dari strategi perang. Berbeda dengan pihak musuh yang saban hari melaporkan jumlah korban. Sampai detik ini, dari laporan terakhir yang kudengar tadi pagi, jumlah korban dari pihak musuh terus bertambah. Terbanyak anak-anak.
“Benjamin,” ujar kakek itu setelah keadaan tenang sejenak. “Tahukah kau, kalau aku dulunya adalah seorang zahal,” katanya sambil mengeluarkan sebuah foto dari tas kecilnya. Sebenarnya aku tidak ingin meladeninya. Aku hanya ingin sendiri saja.
“Lihatlah!” tunjuknya. Ada dua orang berpakaian tentara di dalam foto itu. “Ini aku, Gideon. Sedangkan di sebelahku adalah Levi. Kami adalah sahabat dekat. Saking dekatnya aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.”
Kini aku tahu kalau namanya adalah Gideon. Ia menceritakan tentang kehidupan masa lalunya. Aku tidak menyangka bahwa dia bercerita dengan lancar, tidak meracau seperti halnya orang gila. Aku menatap Gideon. Kali ini kuperhatikan dengan lebih mendalam. Postur tubuhnya alot, terjaga dengan baik. Mungkin di masa mudanya ia rajin mengolah tubuhnya. Jika dibandingkan dengan laki-laki tua seusianya, tubuh Gideon masih lebih kuat dan baik.
“Aku berada di barisan paling depan saat memerangi teroris,” katanya sambil berkaca-kaca. “Kami didoktrin bahwa organisasi gerilya mereka adalah teroris yang harus kita tumpas. Tapi ...” Gideon terdiam lama. Terisak pelan. Lalu menunjukkan sosok tentara yang berdiri di sampingnya pada foto yang terlipat itu.
“Levi,” desahnya panjang, “penembak jitu terbaik kami. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah ada. Saat itu kami ditugaskan ke daerah perbatasan. Levi menerima perintah untuk menembak seseorang. Ketika dia menyadari bahwa targetnya adalah seorang gadis kecil yang dalam pikirannya tidak mungkin bersalah, ia mengabaikan perintah itu. Levi harus menerima konsekuensi atas tindakannya.”
“Apakah gadis kecil itu akhirnya ditembak?”
“Tidak! Levi menghalau penembak lain hingga gadis kecil itu menyadari bahaya dan berlari menjauh.”
“Lantas, apa yang terjadi pada Levi?” tanyaku penasaran.
“Ia harus mendekam di penjara selama tiga tahun. Selama itu pula tak satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Orang bilang ia telah memotong lidahnya sendiri dan tidak menjawab setiap pernyataan dari pengadilan.”
“Menurutku, apa yang dilakukan Levi sudah tepat.”
Gideon menatap ke arahku. Tatapannya berbeda sekali. Tajam dan menukik seakan-akan menghunjam jantungku.
“Aku telah mengabaikan Levi. Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku. Bahkan saat dia mendekam sendirian di sana, aku tak pernah hadir mengisi kekosongan jiwanya. Aku abai. Aku alpa.”
Kali ini aku yang terkejut. Tega sekali Gideon mengabaikan Levi, padahal mereka bersahabat baik.
“Saat Levi keluar dari penjara, ia menyebut namaku sekali. Mungkin satu kata yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun.”
Gideon tampak seperti menyesali perbuatannya. Ia menunduk lama sekali. Setelah mendengar kisah yang menyedihkan, aku mengepalkan tangan. Mengutuk rezim yang tak punya lagi hati nurani. Aku tak lagi yakin siapa sebenarnya yang sedang mereka perangi. Rezim dan sekutunya terlalu angkuh seolah-olah mereka adalah penguasa dunia. Aku berharap suatu saat mereka akan hancur. Dan aku membayangkan suatu dunia tanpa sirene. Tanpa bunker. Tanpa anak-anak yang hapal suara dentuman.
Bhuuum! Gegar suara ledakan di luar bunker terdengar seperti sayatan pilu. Malam masih panjang, belum ingin beranjak. Warga kota masih diselimuti ketakutan. Anak-anak sulit memejamkan mata walaupun orangtua mereka meninabobokan dengan syahdu. Mereka ingin pulang ke rumah. Tapi masih ada wajah-wajah penuh ketegangan, trauma, dan kehilangan arah. Anak-anak itu memeluk ketakutan. Beberapa masih terlalu kecil untuk memahami apa itu perang dan Tanah Perjanjian.
Gideon berdiri perlahan. Ia memasukkan kembali foto kusam itu. Mengambil kayu yang dijadikan senapan.
“Ayo, anak-anak! Kita bermain perang-perangan saja,” ajak Gideon pada salah seorang anak laki-laki yang meringkuk kebosanan. Ia berusaha menghibur. Tapi ajakan itu langsung ditepis oleh seorang perempuan paruh baya. “Hush! Pergi sana orang gila!” Ia mengusir Gideon dengan sebelah sepatunya.
Gideon mundur, lalu menyeringai. Ia tidak menyerah. Dan berpindah kepada seorang gadis kecil. Ia mendapatkan perlakuan serupa. “Tidak ada tempat untuk orang yang tak waras sepertimu! Pantas saja kau dipecat dari zahal.”
Gideon tertawa terbahak-bahak. Tawa yang mengundang perhatian beberapa warga yang mulai terusik. Gideon tidak peduli. Ia tarik topi komando lusuhnya. Lalu dengan kayu itu ia menembak semua orang, mulutnya tak henti menirukan suara tembakan. “Levi, awas!” katanya tiba-tiba. Kemudian ia tiarap sambil menutup kedua telinga. Dari mulutnya ia keluarkan suara ledakan.
Anak-anak menangis karena terusik dengan suara-suara yang dibuat oleh Gideon. Aku diam saja dari tempatku. Menikmati aksinya yang menurutku suatu kewajaran. Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa Gideon bukanlah orang paling gila di dalam bunker. Aku sadar bahwa Gideon pernah kecewa pada rezim. Sama sepertiku. Tapi dia harus melewati luka yang begitu mendalam. Mungkin jika aku berada pada posisinya, aku tidak akan bisa bertahan. Luka dalam hati lebih perih daripada luka di tubuh.
Terganggu dengan kegilaan Gideon, seorang lelaki paruh baya mengancam Gideon dengan sebilah besi. “Jika kau tak bisa diam, akan kuremukkan tengkorakmu dengan besi ini.”
Gideon tidak gentar. Ia pura-pura tidak mendengar. Suara-suara terus keluar dari mulutnya. Dan benar saja. Besi itu melayang ke kepala Gideon. Tapi bukan lelaki paruh baya itu yang mengayunkannya, melainkan seorang lelaki tua lain yang tampak kumuh. Beberapa perempuan menjerit histeris ketika melihat Gideon tumbang. Tidak ada yang berani menolongnya. Aku berlari ke arah Gideon. Begitu kerasnya hantaman itu sampai-sampai tubuhnya yang alot itu langsung tumbang.
Aku menutup darah yang terus keluar. “Tolooong! Siapa pun di sana. Tolooong!”
Lelaki tua kumuh itu melempar besi itu ke arah kami hingga berbunyi nyaring. Orang-orang mulai menjauh, kembali ke posisi masing-masing seperti enggan ikut campur. Siapakah lelaki tua kumuh itu? Wajahnya tak begitu asing. Wajah yang baru saja kukenal, tapi entah di mana. Wajah itu ...
Gideon membuka matanya perlahan. Ia meraih lenganku. Memegangnya dengan erat. Ia menggeleng pelan.
“Benjamin,” serunya lirih.
Sementara itu sebuah ledakan hebat lainnya terdengar di luar sana. Warga kota dalam bunker menjerit. Aku bisa merasakan getarannya sampai-sampai lututku bergetar. Sebuah rudal mengantam keras. Persis di bibir bunker. Lampu padam. Tapi sebelum cahaya mulai redup, aku bisa melihat laki-laki tua yang menghantam kepala Gideon menyeringai. Seringai yang persis kulihat di dalam foto milik Gideon.
Posting Komentar