Melawan Pembenaran

Saat membuka lembaran kosong berwarna putih di layar laptop, pikiran saya tiba-tiba ikut kosong. Apa yang sudah saya bayangkan, saya imajinasikan, saya pikirkan, dan saya simpan dalam memori kepala saya yang terbatas, semuanya lenyap. Sirna bersama nyanyian yang saya setel di kanal Youtube. Sementara itu, suara-suara di meja sebelah tak pernah berhenti keluar dari mulut-mulut. Sudah ratusan kata yang meluncur dari sana. Tapi sedikit pun saya tak paham apa yang sedang mereka bahas. 

Lembaran kerja di komputer saya masih kosong. Baris kursor berkedip-kedip siaga. Ia tak pernah lelah menuntun jemari saya untuk mengeluarkan huruf demi huruf yang coba saya utarakan. Sebenarnya tadi saya ingin menuliskan sebuah cerita misteri yang di dalamnya mengandung unsur kata "labirin". 

Saya memang belum pernah menulis cerita misteri, meskipun ada beberapa cerpen yang saya tulis ada terselip unsur misterinya sedikit. Genre misteri bukanlah hal baru bagi saya. Selain menyukai sastra klasik, saya menyukai genre misteri. Jadi dengan berbekal sedikit wawasan, saya mencoba untuk menyusun cerita tersebut. 

Ide yang ada dalam kepala saya masih berhamburan, masih kusut-masai, masih belum beraturan. Seperti labirin, cerita saya ini belum berbentuk.

Perlahan-lahan, saya mencoba untuk mencari bantuan dari berbagai sumber untuk memasukkan ide saya ini ke dalam sebuah cerita. Akhirnya saya menemukan secercah harapan dan mantap untuk mengolah ide-ide ini ke dalam cerita misteri. Saya tidak utarakan dulu di sini. Proses kreatifnya akan lahir setelah karya tersebut selesai.

Menulis cerita misteri menjadi suatu tantangan bagi saya. Tantangan ini akan coba saya selesaikan dengan suatu keyakinan yang mantap. Harus saya buang jauh-jauh musuh terbesar dalam diri saya, yaitu malas dan suka mencari alasan terhadap pembenaran bahwa malas menulis yang saya hadapi adalah hambatan terbesar. 

Siapa pun itu akan berusaha mencari pembenaran itu. Setiap penulis memiliki pembenarannya masing-masing. Sekarang, pembenaran itu hanya menjadi hiburan belaka. Bagi penulis yang berhasil mengalahkan sikap pembenaran itu, maka dia termasuk penulis yang berbahagia. Sebaliknya, jika pembenaran itu hanya dalih yang selalu dihafalnya, maka dia termasuk penulis yang celaka. Mungkin saya berada dalam lingkaran kedua.


Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar