Perjalanan ke Takengon dari Lhokseumawe via Jalan KKA - Bener Meriah benar-benar mengasyikkan. Apalagi jika perjalanan itu ditempuh dengan sepeda motor bersama orang yang kalian sayangi.
Yups! Saya telah melakukan perjalanan itu pada hari Minggu, 4 Oktober 2026 silam. Saya dan istri saya mulai berangkat pukul 08.00 pagi. Cuaca pada hari itu sangat cerah. Ini pertanda bagus. Karena jika cuacanya mendung bahkan hujan, tentu perjalanan kami akan terkendala.
Sepanjang perjalanan melalui Jalan KKA tersebut, kami belum menemukan kendala berarti. Saya masih nyaman dan aman untuk menempuh perjalanan darat sejauh Lebih kurang 108 km. Kami mengendarai Beat Deluxe ISS 2026 yang baru saja kami beli. Berarti, ini perjalanan jauh pertama kali menggunakan motor matic kelas menengah ke bawah itu.
Motor matic kesayangan ini kami isi pertamax, full tangki. Berarti sekitar lebih kurang 4 liter.
Persinggahan pertama kami selama perjalanan pergi adalah sebuah kafe di Gunung Salak. Kafe ini sangat familiar di kalangan pelancong yang hendak ke Takengon atau sebaliknya. Kafe D'Ground yang menawarkan pemandangan indah dari puncak bukit. Dengan posisi yang tepat, kita bisa menikmati keindahan alam yang terbentang di bawahnya. Saya bisa melihat hijaunya pepohonan, birunya langit, dan putihnya awan yang menggantung.
Saya memesan kopi Americano dan istri saya memesan sanger. Jujur, untuk pesanan ini saya kurang puas dengan rasanya. Kopinya terlalu cepat dingin. Mungkin salah satu faktornya cuaca yang memang sangat dingin ketika berada di sini.
Kafe D'Ground Gunung Salak ini masih berada di wilayah Kabupaten Aceh Utara. Mungkin sekitar 10 kilometer lagi kita akan memasuki Bener Meriah. Nah, untuk cuaca di Bener Meriah ini langsung berubah menjadi dingin. Saya belum terbiasa dengan cuaca dingin sehingga menyebabkan tubuh saya ikut dingin. Jika sudah dingin, rasa ingin buang air kecil selalu datang.
Setelah dari D'Ground, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah tantangan mulai terlihat. Kami harus melalui jalan-jalan yang sudah rusak parah di beberapa titik. Banyak jalan yang berlubang. Rusaknya jalan dan jembatan akibat terjadinya musibah banjir yang melanda Aceh Sumatera pada akhir tahun 2025 silam. Sampai kini, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, khususnya sepanjang jalan KKA - Bener Meriah masih lamban pengerjaannya. Padahal jika jalan dan jembatan ini mulus, kehidupan pariwisata Aceh Tengah akan bergeliat lagi seperti sebelum terjadinya musibah banjir. Bahkan sepanjang jalan Gunung Salak ini banyak dilalui kendaraan.
Kita berharap jalan dan jembatan Lhokseumawe - Aceh Tengah ini segera diperbaiki.
Menjelang zuhur, kami tiba di Takengon. Menunaikan shalat zuhur, istirahat sejenak seraya memesan penginapan di aplikasi Traveloka. Kami memesan Hotel Portola Renggali untuk semalam melalui aplikasi tersebut. Harga yang harus kami lunasi sebesar lebih kurang 340.000 rupiah untuk semalam. Tanpa sarapan. Karena kami berencana untuk menyantap sarapan di tempat lain.
Oh ya. Kami ke Takengon bersama pasangan lain yang mengendarai Yamaha Filano. Untuk Beat Deluxe ISS 2026, bahan bakar yang terbaca di speedometer masih tersisa dua bar. Berarti untuk perjalanan kami menggunakan matic ini sangat hemat.
Tapi kendalanya adalah tarikan yang sangat lemah. Setiap menanjak, tarikan Beat Deluxe ISS 2026 kewalahan. Bernafas dengan berat. Seperti mesin yang tersendat. Saya berharap, matic kesayangan ini tidak berulah dan semoga awet mesinnya.
Keesokan harinya, kami pulang lewat jalan yang sama. Tapi jalan pulang kali ini berbeda. Cuaca mendung, gerimis sesekali turun, awan kabut membatasi pandang, dan hujan deras turun bertubi-tubi.
Kami berjalan lambat karena jalanan yang licin. Tapi meskipun demikian, kami menikmati perjalanan ini dengan hati yang senang. Dan alhamdulillah, kami sampai di Lhokseumawe dengan baik-baik saja.
Posting Komentar